🎖️ Kisah Santri Yang Taat Pada Guru

abaguru terbukti mampu mendidik setiap anak-anak santri yang beliau ajar menjadi orang-orang yang sukses, aba juga mempunyai sebuah dedikasi yang sangat besar bagi maluku utara terkhusus pada masyarakat kampung sangaji di mana dengan kegigihan dan semangat dalam membumikan nilai-nilai islam kepada masyarakat, membuat setiap anak-anak yang lahir BELAJARMENGHARGAI DARI SEEKOR ANJING Pada suatu hari, Syeikh Abu Yazid al-Busthami sedang menyusuri sebuah jalan sendirian. Tak seorang santri pun diajaknya. Ia memang sedang menuruti kemauan langkah kakinya berpijak; tak tahu ke mana arah tujuan dengan pasti. Maka dengan enjoynya ia berjalan di jalan yang lengang nan sepi. Tiba-tiba dari Rasyidjuga memulai debutnya sebagai Da'i. Di tengah-tengah usaha menghafal seluruh ayat Kitab Suci, bocah yang pernah ikut ajang Hafiz Indonesia ini ikut kontes Dai Cilik yang ditayangkan sebuah stasiun televisi swasta nasional. Bocah yang identik menggunakan sorban ini pun berhasil menjadi Yang Terbaik dalam ajang tersebut. Santri Pergoki Guru dari Sang Guru Mengemis di Pasar Di dalam kitab Salalim Al-Fudhola yang merupakan syarah dari Kifayatul Atqiya’ dijelaskan bahwa orang fakir terbagi menjadi tiga macam. Pertama adalah orang fakir yang tidak meminta-minta dan tidak mau menerima pemberian orang lain. 2 Akibat meremehkan guru, lidahnya menjadi kelu dan tidak lancar untuk menyampaikan ilmu. Bukankah banyak kisahnya, pelajar yang biasa-biasa saja namun ketika terjun di masyarakat,karena taat kepada guru, bermanfaat ilmunya. 3. Dan yang paling mengenaskan adalah karena dengan meremehkan guru, seseorang akan menjadi fakir di akhir Blogini mengenai syiar ISLAM ala NUSANTARA, yang menjunjung adab ketimuran, sekaligus sebagai gambaran kecintaan terhadap kyai, habaib, dan NKRI Diberkas dakwaan, seringkali korban mengadukan kehamilannya itu pada si guru pesantren bejat. Mendapati korbannya mengadukan kehamilan, ia tidak panik atau meminta untuk menggugurkan kandungan. "Biarkan dia lahir ke dunia, bapak bakal biayai sampai kuliah, sampai dia mengerti, kita berjuang bersama-sama," kata Herry Wirawan seperti dikutip di Oleh Almara* Pada zaman dahulu, jauh sebelum ada emansipasi wanita, umumnya wanita yang selesai menikah akan menjadi ibu rumah tangga. Tugasnya pun hanya mengurus rumah tangga dan keluarga sementara suami bekerja keras mencari nafkah. Zaman sekarang setelah adanya emansipasi wanita banyak bermunculan wanita karier, mereka menginginkan GuruKayubi di Nganjuk. Kiai Maksum mengatakan, usai menikah pada Tahun 1960, Kiai Soleh sudah memberi pelajaran mengaji ke santri termasuk Kayubi. Kiai ini datang dan menjadi guru baru ilmu ‘Ta’lim al-Muta’allim’. Cara mendidik para santri kala itu, menurut Kiai Maksum, yakni dengan ramah dan tidak kasar. . Konon, suatu ketika Habib Umar Bin Abdurahman Al-Atthos RA Penyusun Ratib Al-Atthos sedang duduk bersama para santrinya. Ada satu santri yang bernama Syekh Ali Baaros RA sedang duduk di sampingnya sambil memijit kaki sang guru itu. Habib Umar terdiam sesaat dan berkata kepada santrinya “Kita kedatangan tamu istimewa, Nabi Khidir AS. Sekarang beliau sudah berada di gerbang depan.” Mendengar dawuh sang guru, para santri berhamburan menuju gerbang depan menyambut kehadiran Nabi Khidir AS. Kecuali Syekh Ali Baaros. Lalu Habib Umar Bin Abdurrahman bertanya kepada Syekh Ali Baaros “Ya Ali, kenapa kau tidak menyambut Nabi Khidir bersama teman-temanmu yang lain?” Syekh Ali Baaros menjawab “Wahai guru, Nabi Khidir AS datang sengaja menemuimu. Untuk apa aku lepaskan tanganku dari kakimu karena kedudukanmu yaitu sebagai guru di mataku sebagai murid jauh lebih mulia dibandingkan Nabi Khidir” Mendengar jawaban dari muridnya seperti itu, lalu berucaplah Habib Umar “Tidak akan aku terima hadiah Fatihah dari siapapun untukku kecuali disertai dengan nama Ali Baaros. Ini bukti keridhoanku kepadanya!” Dengan keridhoan guru, Syekh Ali Baaros yang berguru puluhan tahun kepada Habib Umar dengan berkhidmat dan mengabdi di kemudian hari bisa menjadi ulama besar yang banyak memberi manfaat kepada umat. Kemuliaan guru seperti orang tua kita. Namun, rahasia dunia ada pada kedua orang tua, sedang rahasia akhirat ada pada tangan guru. “Law Laa Murobbi Ma Aroftu Robbi” Jika bukan karena pendidik/guru, maka aku tidak akan mengenal Tuhanku loading...Ustaz Miftah el-Banjary, Dai yang juga pakar ilmu linguistik Arab dan Tafsir Al-Quran asal Banjar Kalimantan Selatan. Foto/Ist Ustaz Miftah el-BanjaryPakar Ilmu Linguistik Arab dan Tafsir Al-Qur'anDikisahkan di Tarim Yaman terdapat satu pesantren yang terkenal bernama "Rubath Tarim". Pesantren ini telah melahirkan puluhan ribu ulama yang tersebar di seluruh dunia. Di sana para santri diajarkan berbagai macam ilmu, khususnya spesifikasi ilmu Fiqh sebagai pesantren itu pula ada seorang santri , sebut saja namanya "Fulan". Fulan ini merupakan seorang santri yang menetap 13 tahun bersama Habib Abdullah bin Umar as-Syatiri dan sangat cerdas, kuat hafalannya, tangkas dan rajin. Ia menjadi santri yang sudah mencapai derajat Mufti saking pintarnya. Ia juga hafal semua Mas'alah Fiqhiyah yang terdapat dalam Kitab "Tuhtatul Muhtaj" sebuah kitab yang tebalnya 10 jilid cetakan Darul Diyha atau 4 jilid cetakan Darul Kutub Ilmiyah. Baca Juga Kesehariannya di pesantren, si Fulan ini disukai oleh teman-temannya, sebab ia dibutuhkan oleh rekannya untuk menjelaskan pelajaran yang belum dipahami serta mengajar kitab kitab lainnya. Hampir 13 tahun menjadi santri Rubath Tarim tentu saja hampir dipastikan kapasitasnya ia termasuk ulama besar . Namanya pun tersohor hingga keluar pesantren bahwa ia termasuk calon ulama besar yang akan muncul akhirnya Setan mengelabui si Fulan, ia pun merasa orang yang paling Alim. Bahkan ia merasa kualitas dirinya sejajar dengan kealiman guru besarnya. Tidak cukup sampai di situ, kesombongan itu berlanjut hingga ia berani memanggil gurunya dengan namanya saja "Ya Abdullah Duhai Abdullah"! Na'udzubillahi min dzalik. Di mata para Ahli ilmu, hal ini merupakan tindakan yang sangat sangat tercela dan kesombongan yang سيدي الشيخ محمد بن علي باعطية الدوعني من نادى شيخه باسمه لم يمت حتى يذوق الفقر المعنوي من العلم"Barang siapa ya memangil gurunya dengan sebutan namanya langsung tidak mengagungkannya ketika memanggil maka dia tak akan meninggal, kecuali sudah merasakan hidup yang faqir baik dalam ilmu maupun materi." Melihat kesombongan si Fulan, Habib Abdullah As-Syatiri sabar dan memilih diam saja. Syidi Syeikh Muhammad bin Ali Ba’atiyah mengatakan "Diamnya seorang guru saat muridnya tidak sopan pada gurunya, tetap akan mendapatkan Adzab dari Allah."Kesombongan itupun berlanjut, si Fulan pada suatu hari akan keluar dari Rubath Tarim menuju Kota Mukalla untuk berdakwah. Ia pun keluar dari pesantren begitu saja tanpa minta izin kepada Habib Abdullah As-Syatiri. Hingga pada saat "Madras Ribath" sebutan untuk pengajian rutinan di rubath Tarim, Habib Abdullah menanyakan keberadaan si Fulan yang biasanya duduk di depan, namun tidak kelihatan. "Kemanakah si Fulan?" Sebagian murid yang mengetahui menjawab "Si Fulan sedang berdakwah ke Kota Mukalla". Habib berkata "Apakah dia izin kepadaku?", sontak murid yang lain diam saja. Dan Habib Abdullah kemudian berkata "Baiklah, kalau begitu biarkan si Fulan pergi akan tetapi ilmunya tetap di sini!"Di sisi lain di Kota Mukalla Yaman, para ahli ilmu dan thalibul ilim dan para pecinta Habib Abdullah as-Syatiri yang mendengar bahwa si Fulan santri senior Rubath Tarim akan mengisi ceramah di Masjid Baumar Mukalla Qadim, mereka pun berbondong-bondong datang, mereka pun mempersilakan si Fulan untuk memberikan Fulan naik ke mimbar dan memulai isi ceramahnya, ia memulai dengan "Basmalah, hamdalah, shalawat kepada Nabi amma ba'du. Kemudian ia membaca sebuah ayatوما خلقت الجن والإنس إلا ليعبدون٥٦ وما أريد منهم من رزق وما أريد أن يطعمون ٥٧ إن الله هو الرزاق ذو القوت المتين ٥٨ سورة الذارياتKetika ingin menjelaskan ayat ini. Namun, ternyata dia terdiam seperti kayu yang berdiri tegak dan kebingungan tak mampu berbicara menjelaskan ayat tersebut. Hingga dia duduk lima menit dia terdiam di hadapan jamaah di hadapannya dia menoleh ke jamaah dan mereka juga memandang si Fulan. Hingga akhirnya dia duduk menangis karena semua ilmu yang pernah ia hafal hilang seketika. Bahkan kitab kecil Safinatun Najah tak hafal satu kalimat pun apa lagi kitab Tuhfah yang awalnya telah dihafal .Ketika di Ribat bagaikan unta yang sangat mahal hargaya karena mempunyai keistimewaan dan kelebihan sendiri. Jamaah yang melihatnya kaget melihat itu. Salah satu ahli ilmu di Kota Mukalla yaitu Habib Abdullah Sodiq Al-Habsyi, beliau pernah mondok mencari ilmu di Ribat Tarim selama 9 tahun beliau mengerti bahwa pasti ada sesuatu yang tidak beres dari si Fulan. Kemudian datanglah kabar bahwa si Fulan telah isa'atul adab berbuat kurang baik terhadap gurunya. Ia pun bertanya pada si Fulan, setelah mendengar penjelasannya, si ahli ilmu menasehati agar ia si Fulan minta maaf pada sang maha sudah dikuasai oleh setan, ia pun enggan untuk tawadhu dan minta maaf pada sang guru . Hidupnya pun bertambah tragis, ilmunya sudah hilang dan tanpa ada keluarga yang mau menerimanya tanpa teman yang peduli pada nasibnya. Ilustrasi santri yang beradab. Foto UnsplashDalam proses pembelajaran, santri membutuhkan orang alim berilmu seperti guru. Dalam Islam, guru merupakan orang berilmu yang harus dihormati, selagi apa yang disampaikannya merupakan kebenaran dan sesuai dengan ajaran Rasulullah. Untuk itu, saat berinteraksi dengan guru, santri wajib memperhatikan adab-adab. Menurut buku Pendidikan Bukan-Bukan oleh Dr. Ulil Amri Syafri, 2019 22 zaman dahulu, demi memperoleh sepotong hadits atau menimba ilmu di sebuah majelis, orang-orang rela melakukan perjalanan jauh. Melihat perjuangan inilah, seorang santri wajib menghargai guru-gurunya. Kewajiban santri untuk beradab terhadap guru sebagaimana nasihat Imam Al Ghazali dalam risalahnya berjudul al-Adab fid Din dalam Majmu'ah Rasail al-Imam al-Ghazali Kairo, Al-Maktabah At-Taufiqiyyah, halaman 431 sebagai berikutآداب المتعلم مع العالم يبدؤه بالسلام ، ويقل بين يديه الكلام ، ويقوم له إذا قام ، ولا يقول له قال فلان خلاف ما قلت ، ولا يسأل جليسه في مجلسه ، ولا يبتسم عند مخاطبته ، ولا يشير عليه بخلاف رأيه ، ولا يأخذ بثوبه إذا قام ، ولا يستفهمه عن مسألة في طريقه حتى يبلغ إلى منزله، ولا يكثر عليه عند “Adab murid terhadap guru, yakni mendahului beruluk salam, tidak banyak berbicara di depan guru, berdiri ketika guru berdiri, tidak mengatakan kepada guru, “Pendapat fulan berbeda dengan pendapat Anda”, tidak bertanya-tanya kepada teman duduknya ketika guru di dalam majelis, tidak mengumbar senyum ketika berbicara kepada guru, tidak menunjukkan secara terang-terangan karena perbedaan pendapat dengan guru, tidak menarik pakaian guru ketika berdiri, tidak menanyakan suatu masalah di tengah perjalanan hingga guru sampai di rumah, tidak banyak mengajukan pertanyaan kepada guru ketika guru sedang lelah.”Apa saja adab santri terhadap guru yang harus diperhatikan?Ilustrasi guru mengajar. Foto UnsplashAdab Santri terhadap GuruMenghimpun dalam buku Manajemen Kurikulum Pendidikan Adab karangan Niswatin Khoiriyah 2021 65 berikut adab santri terhadap guru sesuai dengan apa yang disampaikan Imam Al santri hendaknya lebih dahulu memberikan salam kepada guru. Hal ini sejalan dengan hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim, bahwa yang muda harus memberikan salam kepada yang lebih tua terlebih Tidak banyak berbicara di depan guruBanyak berbicara bisa berarti merasa lebih tahu daripada orang-orang di sekitarnya. Apabila sikap ini dilakukan di depan guru, akan menimbulkan kesan bahwa santri merasa lebih tahu daripada gurunya. Hal ini tidak pantas dilakukan kecuali atas perintah Ikut berdiri ketika guru berdiriBila guru berdiri, santri sebaiknya lekas berdiri juga. Selain bentuk sopan santun dan akhlak terpuji, hal ini penting apabila guru sewaktu-waktu memerlukan bantuan dan santri bisa sigap untuk membantunya. Demikian pula jika guru duduk, sebaiknya santri ikut santri yang beradab terhadap guru. Foto Unsplash4. Tidak menyangkal penjelasan guruKetika guru memberikan penjelasan yang berbeda dengan apa yang pernah dijelaskan oleh orang lain, sebaiknya santri tidak langsung menyangkalnya. Alangkah lebih baik santri meminta izin terlebih dahulu jika ingin menyampaikan pendapat. Jika guru berkenan, tentu santri boleh menyampaikan pendapatnya. 5. Tidak bertanya-tanya kepada teman sebangku ketika guru mengajarDalam majlis ta’lim atau kegiatan belajar mengajar di kelas, santri hendaknya bertanya kepada guru ketika ada hal yang belum jelas. Hal ini tentu lebih baik daripada bertanya kepada teman di sebelahnya yang bisa membuat guru kurang nyaman. 6. Tidak mengumbar senyum saat berbicaraGuru tidak sama dengan teman dan tidak bisa disetarakan dengan teman. Seorang santri harus memposisikan guru lebih tinggi daripada temannya sendiri. Sehingga ketika berbicara dengan guru, tidak boleh sambil tertawa atau senyum yang guru dan santri. Foto Unsplash7. Tidak terang-terangan menunjukkan perbedaan pendapat dengan guruBisa saja santri memiliki pendapat yang berbeda dengan guru. Jika hal ini terjadi, santri tidak perlu mengungkapkannya secara terbuka sehingga diketahui orang banyak. Lebih baik santri meminta komentar sang guru tentang pendapatnya yang berbeda. Cara ini lebih sopan daripada menunjukkan sikap kontra dengan guru di depan Tidak menarik pakaian guru ketika berdiriKetika guru hendak berdiri dari posisi duduk, mungkin ia membutuhkan bantuan karena kondisinya yang sudah agak lemah. Dalam keadaan seperti ini, jangan sekali-kali santri menarik baju sang guru untuk memberikan bantuan tenaga. Santri bisa berjongkok untuk menawarkan pundaknya sebagai tumpuan untuk berdiri atau tetap sesuai arahan Tidak bertanya di tengah perjalanan hingga guru tiba di rumahJika ada suatu hal yang ingin ditanyakan, terlebih jika itu menyangkut pribadi guru, tanyakan masalah itu ketika telah sampai di rumah. Tentu saja ini berlaku jika perjalanan dengan menumpangi kendaraan Tidak banyak mengajukan pertanyaan ketika guru lelahDalam keadaan guru sedang lelah, seorang murid hendaknya tidak mengajukan banyak pertanyaan yang membutuhkan jawaban pelik. Dikhawatirkan guru kurang berkenan untuk menjawbanya.

kisah santri yang taat pada guru